E-commerce Di Kenakan Wajib Pajak di Setiap Transaksi Online

liputan 6-image google

SeoDulu – Baru-baru ini terdengar Pemerintah indonesia,gencar dikabarkan akan mengenakan pajak untuk setiap transaksi online, yang harus disetorkan oleh para pemilik bisnis online kepada Ditjen Pajak. Hal itu pernah disampaikan oleh Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi, kepada media masa. Sontak, pernyataan dari Dirjen Pajak tersebut, diprotes oleh Asosiasi E-commerce Indonesia atau idEA. Menurut Ketua Umum idEA, Daniel Tumiwa, wacana pengenaan wajib pajak yang masih belum jelas bentuknya berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi, karena menimbulkan multi tafsir dari para pelaku usaha.

“Pada intinya kami sebagai pelaku usaha telah dan terus beritikad baik untuk melaksanakan kewajiban pajak sesuai aturan yang berlaku. Yang kami inginkan adalah kejelasan mengenai aturan perpajakan tersebut. Menurut perspektif kami, aturan pajak yang berlaku di ranah offline secara otomatis berlaku juga di online. Untuk itu tidak perlu dibuat aturan tambahan yang akan justu akan membingungkan industri,” katanya.

Menurutnya, jika pajak diberlakukan berlapis, justru akan membuat pemain dalam negeri tak kompetitif dengan pemain di luar negeri. Bahkan dia menyentil, sebaiknya pemerintah memikirkan pajak dari pemain asing seperti Google dan Facebook yang sempat dikatakan tak membayar pajak dari transaksi online,dan akan di blokir. Jika tidak memenuhi kriteria.

“Apabila dibuat pajak berlapis, para pelaku usaha online yang berbadan hukum di negara ini akan menjadi kurang kompetitif dibandingkan pemain di luar negeri. Daripada fokus pada pemain dalam negeri yang sebenarnya sudah ikut aturan, coba juga pikirkan strategi memajaki pemain asing yang mendulang keuntungan dari pasar Indonesia,” tambahnya.

Daniel juga mengatakan bahwa e-commerce pada umumnya dapat dibagi menjadi beberapa model bisnis, yang tentunya memerlukan perlakuan pajak yang berbeda. Misalnya pada model ritel online, yang mana semua stok barang diatur oleh pemilik situs, maka pengenaan PPN dan penyetorannya dilakukan oleh pemilik situs tersebut.

Sementara model bisnis lain seperti marketplace, hanya menyediakan tempat usaha untuk para pedagang yang berjualan di situs mereka. Dalam hal ini, seharusnya pemungutan dan penyetoran PPN dilakukan oleh para pedagang tersebut. Sama halnya dengan yang terjadi di pusat perbelanjaan seperti mall atau Tanah Abang. Tentunya hanya pedagang dengan omzet tertentu yang memiliki PKP dan berkewajiban memungut PPN.

Lain lagi dengan iklan baris online yang sama sekali tidak memfasilitasi transaksi antara penjual dan pembeli. Seperti halnya iklan baris di koran, media yang bersangkutan tentunya tidak mungkin mengenakan PPN terhadap transaksi yang terjadi antara penjual dan pembeli.

Namun demikian, kedua model bisnis di atas tetap mengenakan pajak untuk layanan atau produk yang mereka jual kepada penggunanya. Untuk iklan baris online yang pendapatan utamanya bersumber dari fitur premium (seperti sundul, posisi iklan teratas, dan lainnya), tentu mengenakan PPN untuk setiap fitur yang dijual. Maka itu perlu pemahaman yang mendalam mengenai model bisnis masing-masing untuk dapat memberlakukan aturan yang objektif dan konstruktif bagi industri.


Jadi bersiap-siap,untuk mengurus berkas-berkaspajak ya sobat seo.

Baca Juga  Gratis : Alat-Alat Untuk Cara Membuat Artikel Blog Bule Inggris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *